In Memoriam: Hamdiatul Hasanah
Tidak terbayang sama sekali kita akan kehilangan seseorang. Seorang teman yang sudah erat sekali, bak keluarga. Tapi inilah takdir, tidak pernah menunggu kesiapan kita, selalu tak terduga, dan menciptakan kerinduan.
Kemarin tepat pukul 12.13 WIB, panitia mengumumkan kepergian sahabat kami. Teman seperjuangan menjalankan KKN. Kabar yang membuat kami menangis dan kebingungan, apakah ini benar terjadi ataukah mimpi.
Sebab kecelakaan yang dialami dua teman kami pada hari Jum'at lalu, masih membuat kami terkejut. Hari itu Hamdiatul Hasanah (Dian) dan Anikotul Afifah (Elok) ijin keluar mengambil uang di ATM seusai Sholat Jum'at dilaksanakan.
Selang beberapa saat kabar kecelakaan keduanya menyebar di grup KKN. Kami panik, cemas, takut, bercampur semua rasa. Anggota laki-laki pergi melihat keadaan dan anggota perempuan langsung melakukan istigotsah dan berdo'a bersama.
Keduanya dibawa ke puskesmas terdekat. Elok mengalami luka-luka di beberapa tubuh dan dirawat di rumah, sedangkan Dian harus dilarikan ke RSU karena terdapat pendarahan pada otaknya.
Dua orang teman dan keluarga alm Dian turut mengantar. Alm Dian juga harus melakukan scen untuk menentukan pengobatan selanjutnya, apakah dia harus dioprasi atau perawatan biasa di RSU.
Ternyata pendarahan di otaknya cukup parah, sehingga alm harus dilarikan ke RS Jember untuk melakukan oprasi. Ketika di Jemberi inilah kami hanya bisa menunggu kabar dari Bapak Kamil dan keluarganya.
Di posko, kami tidak pernah berhenti mendoakan Dian; shalawat, istigotsah dan do'a bersama. Kami sangat berharap Dian dan Elok bisa kembali di posko dan ikut bersama melaksanakan KKN.
Waktu cepat berlalu, setiap saat kami menanti kabar keadaan Dian. Tapi qadarullah, ini takdir dari Allah, teman kami kembali ke haribaannya. In syaa Allah dalam keadaan syahid, sebab ia fisabilillah menuntut ilmu.
Rabu sore, kami takziah ke rumahnya. Disertai gerimis yang mengguyur kota, kami mengantarkan jenazah alm Dian ke kediaman terakhirnya. Inilah detik terakhir kami menemui Dian.
Keceriaan almarhumah akan selalu dikenang. Dia adalah sosok teman yang baik, perhatian, tidak pilih-pilih. Setiap ada teman kesusahan dia orang pertama yang siap menolong.
Seperti pagi sebelum kecelakaan itu terjadi. Almarhumah masih melaksanakan piket memasak, mencuci peralatannya, mencuci bajunya dan seorang teman yang sakit dan masih sempat mengurus teman kami yang sakit.
Kami memang baru dekat selama 20 hari saja. Membersamai dalam rumah posko 24 jam, dan berjuang mengerjakan tugas bersama. Tetapi kenangan baiknya tidak akan lekang oleh waktu. Sampai kapanpun dia adalah teman baik kami.

0 Komentar