Desa Ranu Bedali merupakan wilyah yang mempunyai potensi perkebunan cukup luas dengan jumlah penduduk 6.471 orang. Luasnya perkebunan ini mengindikasikan bahwa penghasilan masyarakat berasal dari kebun yang dikelola. Di sisi lain banyaknya kebun berarti banyak pula rumput-rumput yang dijadikan pakan ternak. Artinya masyarakat Ranu Bedalui selain berkebun juga peternak.
Sebagian besar masyarakat memiliki kebun dan kebanyakan satu Kartu Keluarga (KK) menggarap lebih dari satu kebun. Adapun beberapa masyarakat yang tidak memiliki kebun, mereka menyewa dengan biaya tertentu sesuai dengan berapa lama menggarapnya.
Sebagian besar masyarakat menanam alpukat, pohon sengon, pohon barsa, pisang, kelapa hijau dan sebagainya. Untuk alpukat sendiri, memang daerah Ranuyoso termasuk desa Ranu Bedali dikenal sebagai penghasil alpukat madu terbaik.
Termasuk juga kelapa hijau terbaik berasal dari Ranuyoso. Dari jam tiga pagi, petani/pedagang kelapa hijau desa Ranu Bedali berangkat ke pasar Ranuyoso, menjajakan dagangannya. Tidak butuh waktu lama, satu-dua jam kemudian kelapa hijau habis dan pedagang kembali ke rumah dengan hati senang. 
Penjualan seperti ini dirasa lebih menguntungkan sebab petani langsung mendapat keuntungan tanpa melalui pengepul. Sekarang, harga satuan kelapa hijau sekitar Rp. 7000 dan pada peningkatan jumlah pasien covid harga berkali-kali lipat lebih mahal.
Kebun yang ditanami pohon sengon dan barsa atau semisalnya mengalami masa panen setahun sekali (paling pendek) dan jika ingin hasil lebih mahal maka menunggu pohon lebih besar lagi selama beberapa tahun. Menurut beberapa narasumber yang kami temui, satu pohon sengon bisa terjual satu juta rupiah. 
Potensi perkebunan ini sangat disayangkan jika tidak dimaksimalkan. Masyarakat bekerja merawat kebun sesuai pengetahuan nenek moyangnya, meskipun saat ini sudah lebih maju dan terdidik. Beberapa masyarakat menggunakan pupuk dari kotoran ternak yang dikeringkan, bukan pupuk kimia yang ada pada umumnya.